Breaking News
Home » Bonsai » Teknik Pengawatan pada Bonsai

Teknik Pengawatan pada Bonsai

Pengawatan pada bonsai bertujuan untuk membentuk batang, cabang, dan ranting agar tumbuh sesuai dengan arah yang diinginkan. Proses pengawatan pada bonsai memerlukan kawat yang mudah dibengkokkan tetapi tetap keras sehingga dapat mengarahkan tumbuhnya batang, cabang, atau ranting dengan baik.

Kawat yang digunakan sebaiknya berukuran sepertiga ukuran batang, cabang, atau ranting sehingga dapat melilit dengan tepat dan baik. Apabila hanya tersedia kawat yang kurang dari ukuran tersebut, pengawatan dapat dilakukan menggunakan 2-3 lapis kawat. Karena ukuran kawat harus mengikuti ukuran batang yang akan dililit, maka dalam satu tanaman dapat digunakan beberapa macam kawat. Kawat yang digunakan untuk melilit batang, cabang, dan anak batang berbeda. Apalagi kalau dalam anak cabang terdapat lagi cabang yang lebih halus. Bisa saja dalam satu tanaman digunakan 2, 3, 4 kawat yang berlainan.

Pengawatan harus dilakukan dengan hati-hati. Jangan terlalu kencang, tetapi juga jangan terlalu longgar. Kawat yang terlalu kencang akan melukai kulit batang, cabang atau ranting yang dikawat. Sebaliknya kawat yang terlalu longgar dapat mengakibatkan bentuk yang didapatkan jelek atau tidak sesuai dengan keinginan. Biasanya setelah 6 bulan hingga 1 tahun kawat mulai mencekik tanaman. Oleh karena itu, sebelum hal tersebut terjadi sebaiknya kawat segera dibuka sehingga pengontrolan dapat sering dilakukan. Biasanya kawat harus sudah diganti atau dilepas saat batang, cabang, atau ranting tanaman yang dikawat kulitnya sedikit terkelupas. Apabila bentuknya masih belum sesuai, pengawatan dapat dilakukan kembali.

Beberapa jenis tanaman tertentu seperti Ficus, siantho, cemara, dan lain-lain lamanya pengawatan dapat diperkirakan berdasarkan pengalaman. Hal ini tidak dapat ditentukan secara pasti karena tergantung juga pada cepat lambatnya pertumbuhan batang dan lingkungan tumbuh tanaman. Batang atau cabang yang berbeda ukuran akan berbeda juga waktu pengawatannya.

Lilitan kawat tidak boleh tumpang tindih agar hasilnya bagus. Sebaiknya lilitan harus dibuat searah mengikuti arah tumbuh tanaman. Kawat yang tidak tumpang tindih juga lebih mudah dilepas.

Teknik pengawatan pada batang utama, cabang dan anak cabang pada bonsai yaitu sebagai berikut:

1. Pilihlah kawat yang ukurannya sesuai (sepertiga ukuran batang). Ujung kawat mula-mula dimasukkan ke dalam tanah pot sehingga kokoh.

Ujung kawat mula-mula dimasukkan ke dalam tanah pot sehingga kokoh
Sumber: Genotti 2007

Gambar 1 Ujung kawat mula-mula dimasukkan ke dalam tanah pot sehingga kokoh

2. Kawat dililitkan pada batang dengan sudut 45°. Pelilitan dilakukan dengan sudut dan jarak yang relatif sama. Lilitan diatur dan disesuaikan dengan arah pertumbuhan batang yang diinginkan.

Kawat dililitkan pada batang dengan sudut 45° dan dengan jarak yang relatif sama
Sumber: Genotti 2007

Gambar 2 Kawat dililitkan pada batang dengan sudut 45° dan dengan jarak yang relatif sama

3. Lanjutkan dengan pelilitan pada cabang. Gunakan kawat yang lebih kecil ukurannya. Pengawatan cabang dilakukan secara berpasangan antara cabang satu dengan cabang yang lainnya agar terjadi keseimbangan. Kawat yang melilit cabang tidak boleh bertindihan dengan kawat sebelumnya yang lebih besar.

Pengawatan pada cabang bonsai
Sumber: Pessey & Samson 1992

Gambar 3 Pengawatan pada cabang bonsai

4. Pengawatan pada anak cabang juga hampir sama dengan pengawatan pada bagian cabang, hanya saja ukuran kawat yang digunakan dipilih yang lebih sesuai (lebih kecil dari kawat untuk bagian cabang).

Pengawatan pada anak cabang bonsai
Sumber: Pessey & Samson 1992)

Gambar 4 Pengawatan pada anak cabang bonsai


Sumber:

Genotti C. 2007. Un Bonsai Ideal. Editorial De Vecchi.

Hardiansyah B. 2006. Membuat dan Mempercantik Bonsai untuk Pemula. Jakarta: PT AgroMedia Pustaka.

Paimin FB, Nazaruddin. 1992. Seni Bonsai Lanjutan. Jakarta: Penebar Swadaya.

Pessey C, Samson R. 1992. Bonsai Basics: A Step-By-Step Guide to Growing, Training and General Care. New York: Sterling.

Sulistyo B, Subijanto L. 1988. Bonsai. Yogyakarta: Kanisius.

 

Check Also

Latar Belakang Spiritual dari Bonsai

Seni bonsai pertama kali muncul di Cina sedangkan kata bonsai berasal dari bahasa jepang. Seni …